Anak-anak Gratis, Dewasa Empat Ribu
---
Foto diambil di Museum Anak 'Kolong Tangga', kompleks Taman Budaya Yogyakarta, pada 21 Januari 2012.
fitria flafea // perempuan - yogya
---
Foto diambil di Museum Anak 'Kolong Tangga', kompleks Taman Budaya Yogyakarta, pada 21 Januari 2012.
Orang Jawa menyebut sandal-non-jepit sebagai sepatu sandal. Kebetulan, sepatu dan sandal ini bertemu. Gadis-gadis kecil pemakainya mungkin sama-sama menyukai kupu-kupu. Hiasan boleh sama, model berbeda.
---
Foto diambil pada November 2011.
Kalau ia manusia, barangkali banyak wanita jatuh hati padanya. Ganteng dengan tubuh nyaris sempurna. Nyaris, karena kelamin tak dimilikinya. :)
Membicarakan kelamin dengan maksud mengenali anatomi tubuh manusia agaknya masih menjadi wilayah 'saru'. Satu alat peraga di Gedung Kotak, Taman Pintar, menunjukkan hal itu.
Bila dalam konteks pendidikan hal ini masih tabu, di mana anak-anak dapat memperoleh informasi yang tepat? Di lapak pedagang DVD bajakan, atau diam-diam mengunduh gambar di warnet?
Ah, saya terlalu mengada-ada. Tentu saja di kelas, dari penjelasan bapak atau ibu guru. :)
---
Foto diambil di Gedung Kotak Taman Pintar, Yogyakarta, pada 11 Januari 2012.
Gadis cilik di jendela itu sudah mendunia. Kisah-kisah masa sekolahnya di Tomoe Gakuen menginspirasi para pendidik dan orang tua. Totto-chan, gadis dengan rasa ingin tahu yang besar, imajinatif, teguh, setia kawan, dan penyayang. Apa yang mendukungnya tumbuh luar biasa? Dalam ceritanya, Kepala Sekolah Kobayashi dan ibu-ayahnya.
Buku "Totto-chan" Tetsuko Kuroyanagi (diterbitkan ulang Gramedia pada 2003) didiskusikan dalam pertemuan-selasa-minggu-pertama (11/01) di Sanggar Anak Alam (Salam), Yogyakarta. Satu bagian yang dibahas seru adalah bagian yang mengisahkan upaya keras Totto-chan mencari dompet kesayangannya. Dompet itu jatuh ke lubang kakus sekolah. Tak merelakannya, ia pun mencari penutup lubang di halaman belakang. Dengan susah-payah Totto-chan membukanya, lalu mulai menciduk isi bak penampung kotoran sampai baknya nyaris kosong. Dalam proses itu, Kepala Sekolah cukup bertanya, “Kau akan mengembalikan semuanya kalau sudah selesai, kan?” "Ya," jawab Totto-chan. Kepala Sekolah kemudian pergi.
Sungguh tak terbayangkan. Reaksi orang dewasa biasanya, "Hei, apa yang kau lakukan? Bahaya tahu!" Atau, "Sudah, tak usah dicari. Beli lagi saja!" Lengkap dengan nada tinggi dan ekspresi kemarahan.
"Anak hanya perlu diberi ruang. Kepercayaan. Anak adalah mahaguru bagi dirinya. Dengan mengalami, ia mengerti sendiri," tutur Sri Wahyaningsih atau akrab dipanggil Bu Wahya, pendiri Salam. "Kita, orang dewasa, cenderung tidak punya kesabaran. Kita memberitahu macam-macam di depan (sebelum anak melakukan)," tambahnya. Ini menyurutkan semangat anak, membuatnya takut sebelum mencoba.
Kepala Sekolah Kobayashi memberi ruang bagi Totto-chan untuk berusaha semaksimal mungkin. Hal ini menumbuhkan kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab Totto-chan. Bahwa hasil akhir adalah dompet itu tak ditemukan, bukan menjadi pokok penting.
Pertanyaannya, bisakah kita seperti itu? Memberi ruang, memercayai anak. Menepikan amarah, menahan diri tidak mencela, dan mendengarkan pemikiran anak. Saya sendiri masih harus belajar banyak. :)
---
Dua foto pertama berlokasi di Salam, Nitiprayan, Yogyakarta. Foto pertama diambil pada November 2011; foto kedua pada pertemuan-selasa-minggu-pertama 10 Januari 2012. Foto terakhir bertempat di Rumah Mbak Alfa, Yogyakarta, diambil pada November 2011.